ESSAY
Pelita III (1
April 1979 – 31 Maret 1984)
Pada awal orde baru, strategi pembangunan di Indonesia lebih
diarahkan pada tindakan pembersihan dan perbaikan kondisi ekonomi yang
mendasar, terutama usaha untuk menekan laju inflasi yang sangat tinggi. Strategi-strategi
tersebut kemudian dipertegas dengan ditetapkannya sasaran-sasaran dan titik
berat setiap Repelita (REPELITA atau Rencana Pembangunan Lima Tahun adalah
satuan perencanaan yang dibuat oleh pemerintah orde baru di Indonesia). Rencana
ini juga untuk sebagian besar mencakup rencana pembangunan di sektor
pemerintah. Pemerintah khususnya akan membantu dan membimbing pengusaha
golongan ekonomi lemah baik di dalam segi permodalan, pemasaran, dan keterampilan
demi untuk menciptakan suatu landasan yang luas dan kokoh bagi pertumbuhan
ekonomi selanjutnya.
Perkiraan-perkiraan
yang disusun mengenai laju pertumbuhan ekonomi secara menyeluruh maupun secara
sektoral, jumlah investasi, tabungan pemerintah dan tabungan masyarakat,
ekspor, impor, sumber dana luar negeri, dan lain-lain telah diusahakan sedapat
mungkin serasi antara yang satu dengan yang lain. Perkembangan ekonomi dunia sedang mengalami berbagai
macam keguncangan. Perekonomian dunia sedang dilanda oleh berbagai macam krisis
seperti krisis moneter, krisis perdagangan, krisis pangan, krisis energi, dan sebagainya.
Dengan berbagai macam kebijaksanaan ekonomi dan keuangan, pemerintah berusaha
untuk memperkecil akibat daripada gejolak perekonomian dunia. Hal ini berarti
bahwa perkiraan ini perlu senantiasa ditinjau kembali dalam rangka perkembangan
ekonomi di masa depan.
Rencana
Pembangunan Lima Tahun ini menentukan sasaran umum yang hendak dicapai serta
arah kebijaksanaan yang akan ditempuh. Rencana ini akan dituangkan ke dalam
program kegiatan dan proyek pembangunan di dalam Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara yang merupakan rencana tahunan. Setiap tahunnya rencana untuk
tahun berikutnya disusun berdasarkan perkembangan dan pengalaman pada
tahun-tahun sebelumnya. Atas dasar permasalahan-permasalahan
tersebut, dalam Repelita III unsur pemerataan lebih ditekankan dengan tetap
memperhatikan "logi" lainnya melalui kebijaksanaan delapan jalur
pemerataan yang intinya adalah:
1. Pemerataan
kebutuhan pokok rakyat , terutama pangan, sandang, dan perumahan.
2. Pemerataan
kesempatan untuk memperoleh pendidikan, pelayanan kesehatan.
3. Pemerataan
pembagian pendapatan.
4. Pemerataan
perluasan kesempatan kerja.
5. Pemerataan
usaha, khususnya bagi golongan ekonomi lemah.
6. Pemerataan
kesempatan berpartisipasi, khususnya bagi generasi muda dan kaum wanita.
7. Pemerataan
pembangunan antar daerah.
8. Pemerataan
kesempatan memperoleh keadilan.
Delapan jalur pemerataan dimunculkan
pertama kali oleh Presiden Soeharto pada pidato kenegaraan tanggal 16 Agustus
1979, sebagai pedoman dalam melaksanakan pembangunan repelita III dan sebagai
penegasan trilogi pembangunan. Trilogi pembangunan adalah pemerataan
pembangunan dan hasil-hasilnya yang mengarah pada terwujudnya keadilan sosial
bagi seluruh rakyat, pertumbuhan ekonomi yang tinggi, stabilitas nasional yang
sehat dan dinamis.
Dalam rangka memeratakan kebutuhan
pokok rakyat, terutama sandang dan papan, telah diusahakan ketersedian bahan
pokok secara merata dan dengan harga terjangkau sehingga mencakup banyak
masyarakat. Langkah yang diambil yaitu daya beli masyarakat ditingkatkan dan
intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian. Untuk masalah sandang, dilakukan
peningkatan produksi tekstil. Intensifikasi akan dilakukan melalui peningkatan
produktivitas per hektar tananh dengan cara penggunaan pupuk, bibit unggul,
pemberantasan hama dan penyuluhan. Lalu ekstensifikasi akan dilakukan dengan
cara memperluas area tanah pertanian, baik padi maupun palawija, yang pada
umumnya dilakukan di luar Jawa. Sebagai hasil intensifikasi dan ekstensifikasi,
Indonesia berhasil menjadi Negara berswasembada pangan pada tahun 1984 dan
mengubah diri dari pengimpor beras terbesar sedunia menjadi pengekspor beras,
meskipun masih dalam skala kecil. Karena keberhasilan ini, Soeharto mendapat
penghargaan dari Organisasi Pangan Sedunia pada tahun 1985.
Dalam bidang perumahan, diusahakan
pembangunan perumahan dengan harga terjangkau, baik pemerintah maupun swasta
yang pembayarannya melalui angsuran. Dilakukan pula usaha untuk meningkatkan
produksi bahan-bahan bangunan murah secara missal dari bahan dalam negeri.
Dengan ini maka terbukalah kesempatan kerja dan pengembangan teknologi yang
menunjangnya. Dengan ini maka lingkungan kampong dan desa diperbaiki. Masalah
perumahan sangan mendesak seiring pertambahan jumlah penduduk dan urbanisasi
yang sulit diatasi. Karena itu timbul banyak dampak negative di lingkungan
yaitu hilangnya tanah subur yang seharusnya bisa mempertahankan kehidupan
manusia, menyimpan air, dan menjaga kehidupan tumbuhan sehingga kurangnya
penyedia oksigen. Masalah yang lain yaitu masalah sosial, seperti kebersihan,
pendidikan, dan hubungan antarwarga.
Majunya suatu Negara diukur dari
tingkat pendidikannya. Usaha pemerataan kesempatan pendidikan dilakukan melalui
peningkatan jumlah sekolah. Presiden telah mengeluarkan Inpres pembanguna sekolah dasar untuk menampung anak-anak usia
SD. Selain itu dikeluarkannya peraturan wajib belajar untuk anak usia sekolah,
beasiswa untuk anak tidak mampu, contohnya beasiswa supersemar, dan program
kejar di luar sekolah dengan memberi pengetahuan dasar, cara berpikir, dan
keterampilan. Program kejar dikaitkan dengan program pemberantasan buta huruf
gaya baru di desa-desa, yaitu pemberantasan buta aksara latin dan angka, buta
bahasa Indonesia, dan pengetahuan dasar. Pemerintah juga melaksanakan
pendidikan Pancasila. Presiden berpidato yang isinya tentang kepercayaan kepada
Tuhan yang Maha Esa yang menjadi bagian kebudayaan nasional. Untuk
memantapkannya, pemerintah membentuk sebuah komisi untuk mengumpulkan bahan dan
menyampaikan saran pertimbangan pada pemerintah mengenai kebudayaan dan
pendidikan. Dengan adanya Komisi Pembaharuan Pendidikan Nasional ini, dalam
Pelita III diharap menghasilkan UU pokok Pendidikan Nasional. Akan tetapi,
komisi ini sampai akhir Pelita III UU tersebut belum dapat disusun, dan tahun
1988 pemerintah mengajukan RUU tentang Pendidikan Nasional pada DPR.
Usaha pemerintah di bidang kesehatan
untuk meningkatkan dan memupuk kemampuan tenaga kerja untuk generasi mendatang.
Maka pembangunan kesehatan merupakan kegiatan untuk mendukung kegiatan
pembangunan. Bersamaan dengan itu, kemajuan pembangunan memberi kemungkinan
besar untuk mendorong perbaikan kesehatan rakyat. Pemerataan ditujukan pada
rakyat desan dan penduduk berpenghasilan rendah. Usaha ini dilakukan melalui
penyediaan dan peningkatan gizi penduduk, lingkungan yang bersih, dan
persediaan air bersih. Kemudian, diusahakan kemudahan pelayanan kesehatan pada
masyarakat. Untuk itu, setiap kabupaten dan kota madya didirikan rumah sakit
umum, puskesmas kecamatan dan pembantu di desa, serta pengadaan obat-obat yang
terjangkau.
Dalam rangka pemerataan pembagian
pendapatan, terutama untuk mempertinggi pengahasilan kelompok berpenghasilan
rendah, pemerintahberusaha mengarahkan segala kebijakan ekonomi dan pembangunan
agar golongan rendah terangkat hidupnya. Pemerataan pembagian pendapatan
berkaitan erat dengan pemerataan kesempatan kerja. Oleh karena itu, penyediaan
lapangan kerja akan menyerap tenaga kerja. Pemertaan pendapatan harus tercermin
dalam pengembangan dunia usaha. Program peningkatan kesempatan berusaha
pengusaha kecil tidak menghilangkan kesempatan pengusaha besar. Modal asing
diberi kesempatan pula dalam usaha pembangunan yang belum digarap pengusaha
nasional. Disamping itu, peran koperasi juga semakin ditingkatkan , dengan
memberi bimbingan dan bantuan pada lembaga koperasi maupun pengusaha kecil.
Untuk melaksanakan pemerataan
kesempatan kerja, kebijaksanaan umum dibidang keuangan, perpajakan, teknologi,
dan sektoral, diarahkan agar mendorong pertumbuhan ekonomi yang mampu menyerap
tenaga kerja. Selain itu perluasan kesempatan kerja ditingkatkan melalui proyek
padat karya. Semakin tingginya angkatan kerja dewasa, masalah kesempatan kerja
menjadi masalah yang berat dan rawan. Sebab bila tidak diatasi akan menimbulkan
gejolak sosial yang mengganggu keamanan dan ketertiban nasional.
Pemerataan kesempatan dalam
berpartisipasi dalam pembangunan, khusunya generasi muda dan wanita, ditempuh
dengan mengembangkan kelompok kerja produktif, meningkatkan pendidikan dan
keterampilan wanita melalui pendidikan informal dan keterampilan serta
kewiraswastaan. Dengan demikian, kemampuan wanita akan bertambah dan
mendapatkan penghasilan. Pemerinath mendirikan BLK (Balai Latihan Kerja) untuk
membina kader pembangunan, khususnya kaum wanita. Pemerataan penyebaran
pembangunan di tanah air diusahakan dengan mengutamakan pembangunan daerah
terbelakang, daerah minus, dan daerah padat penduduk. Misalnya pembangunan
industri yang tidak berpusat di Jawa, melainkan di daerah lain. Usaha-usaha ini
telah dilaksanakan oleh pemerintah, sebagai contoh pembangunan pabrik semen
Indarung di Sumatra Barat, pabrik semen di Tonasa, Sulawesi Selatan, pabrik
semen di Kupang, NTT, pabrik pupuk Sriwijaya di Palembang, pabrik pupuk di
Aceh, pengolahan aluminium Asahan di Sumatra Utara.
Pemusatan pemukiman dan pembangunan
di Jawa berakibat buruk. Ahli ekonomi dan kependudukan Indonesia meramalkan
bahwa kelak pulau jawa akan jadi kota besar dan tenggelam ke laut. Untuk itu
digiatkan program transmigrasi yang bertujuan untuk mengurangi kepadatan
penduduk suatu daerah dan menambah SDM di daerah lainnya. Melihat perbedaan
potensi di setiap daerah, maka jenis dan proyek pembangunan disesuaikan dengan
kebutuhan pembangunan daerah. Pembangunan membutuhkan dana. Oleh karena itu,
diperlukan pengaturan sumber-sumber keuangan baru. Dalam rangka ini pula,
dikembangkan kota-kota sedang dan kecil supaya menjadi pengumpul dan penyalur
hasil pertanian dan kebutuhan pokok lain, sekaligus mengurangi urabinasasi ke
kota-kota besar.
Dengan
demikian ,dapat dikatakan bahwa harapan dan arti pembangunan di Indonesia telah
memasuki-memasuki dimensi-dimensi baru yaitu makin mendesaknya usaha untuk
meratakan pembangunan dan mencerminkan suasana serta rasa keadilan.
DAFTAR PUSTAKA
Enigma. 11 Juli 2015, 21:56. Sebutkan dan Jelaskan 8 Jalur Pemerataan.
Diakses pada 12 Oktober 2016, 15:07 dari (http://www.bhataramedia.com/forum/sebutkan-dan-jelaskan-8-jalur-pemerataan/)
Asril. 19:14. Indonesia Zaman Orde Baru.
Diakses pada 12 Oktober 2016, 15:09 dari (http://wartasejarah.blogspot.co.id/2014/11/pelita-pembangunan-lima-tahun.html)
Artikel Pengertian Delapan Jalur Pemerataan
Diakses
pada 16 Oktober 2016, 20:00
Lisma. Selasa, 12 April 2001,23:15.
Repelita atau Rencana Pembangunan Lima Tahun
Diakses
pada 16 Oktober 2016, 20:09
Tidak ada komentar:
Posting Komentar